Recent Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Refleksi Masyarakat Madura untuk Pilkada 2018

Sabtu, 27 Januari 2018
Oleh: Mas Uud
Kader: PMII UTM. Mahasiswa Sastra Inggris FISIB-UTM.
Hiruk pikuk Gegap gempita pilkada serentak akan dihelat pada tanggal 27 Juni 2018.  Di pulau Madura sendiri, ada tiga kabupaten yang akan melaksanakan kontestasi pemilihan kepala daerah 2018-2023 yaitu Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Secara esensialnya, tiga kabupaten yang akan menyelenggarakan pemilihan tersebut bertujuan untuk mentransformasikan sistem birokrasi di daerah agar lebih baik daripada periode sebelumnya, akan tetapi, muncul beberapa asumsi yang telah beredar di masyarakat maupun di linimasa. Ada yang berasumsi kandidat bertujuan untuk mempertahankan rezim kekuasaannya. Ada juga yang berpendapat karena diminta oleh sebagian rakyat agar elektabiltas dan kapasitasnya untuk lebih memadai statusnya.  Disisi lain, ada inisiatif untuk maju karena disupport oleh para tokoh ulama, yang merupakan panutan dan cerminan mayoritas masyarakat Madura. Yang paling ironis lagi, ada yang berasumsi tentunya terutama kandidat yang mempuni dalam bentuk logistik. Tidak hanya itu, masih banyak asumsi-asumsi lain yang belum kita temukan, termasuk asumsi saya.

Saya bersyukur kepada Allah Swt, karena masih diberi kesehatan dan dapat menyaksikan bagaimana jalannya roda demokrasi pada tahun ini. Yang paling menarik bagi saya adalah pemilihan kepala daerah tahun ini diikuti oleh tiga kabupaten di pulau Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Dari ketiga Kabupaten itu sama-sama memberikan pengetahuan selama perjalanan hidup saya yang sudah masuk usia dewasa ini.

Sampang adalah tanah kelahiran dan tempat dimana saya tumbuh besar. Pamekasan adalah daerah dimana saya mengenyam banyak pengetahuan dan keilmuan, sedangkan Bangkalan adalah proses pendewasaan saya selama berkarir dalam dunia pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Dari tiga daerah yang sudah saya alami, mempunyai pengalaman yang menarik, terutama bagaimana arus akulturasi sosial masyarakat. Kalau Sumenep bagaimana ya.? Sumenep adalah tempat yang bisa membuat saya nyaman, adem, dan tenteram. Karena banyak wisata yang bisa dinikmat ditengah-tengah kegundahan hati wkwkwkw (biar tidak terlalu serius dan tegang menghadapi pemilu guys).

Sebelum saya mengutarakan opini terkait pilkada di Madura, saya akan perkenalkan beberapa calon bupati dan wakil bupati di tiga kabupaten di pulau Madura. Tapi sepertinya gak penting karena banner semua paslon sudah terpampang mulai dari sektor perkotaan sampai ke pedesaan. Jadi kurang wajar kalau kalian belum tau para kandidat pemimpin-pemimpin terbaik yang akan bertarung pada pilkada kali ini. Tapi gak apa-apa lah, yang penting kalian tidak apatis terhadap pemilu secara berjalan demokratis, apalagi sampai pragmatis.

Ada beberapa pernyataan dan pertanyaan menjelang pemilihan pilkada tahun ini. Pernyataan pertama, kita harus bersyukur kepada Allah SWT, karena kita masih diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam demokrasi kali ini. Kedua, banyak bakal calon yang sudah bermunculan untuk ikut serta dalam kontestasi pilkada secara serentak. Artinya sosok kader pemimpin di Madura lumayan meningkat, walaupun ada salah satu calon yang belum bisa mencalonkan karena didiskreditkan atau dikerdilkan oleh individu atau kelompok yang sejatinya mempunyai elektabilitas kuat. Ketiga, ada salah satu calon yang sudah bisa diekspektasikan, sehingga sudah bisa mendeterminasikan arah sikap kita. Pertanyaan pertama, apakah kita akan menyia-nyiakan kesempatan sudah Allah berikan untuk memilih pemimpin yang ideal siddiq, amanah, tabligh, fatonah. Kedua, dari beberapa bakal calon yang muncul, pernahkah anda menganalisis sosok pemimpin yang kalian idamkan untuk mencapai sebuah peradaban? baik dari aspek elektabilitas, kapasitas, atau popularitas. Ketiga, akankah salah satu calon yang sesuai dengan kriteria ekspektasi kalian akan disiasiakan, atah bahkan suara kalian ditukar dengan sepeser atau segudang uang yang sifatnya sementara dan pada akhirnya akan memicu maraknya potensi  mega korupsi?. Itu adalah beberapa pernyataan dari beberapa pertanyaan, ataupun  malah sebaliknya (dipikir dan dijawab sendiri saja) Hahaha “Intermezo bro”. Perlu refleksi dan introspeksi diri agar kelak kita tidak bunuh diri, bahkan membunuh banyak orang secara hegemoni hehehe.

Sejauh ini, walaupun di Madura dengan jumlah populasi pemilu yang cukup banyak, namun masih belum bisa mewujudkan partisipasi politik dengan maksimal. Hal itu disebabkan karena minimnya pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pemahaman politik di masyarakat kita, dan kondisi semacam ini bisa dimanfaatkan oleh individu atau kelompok untuk membuat skenario taktis agar suaranya bisa dimanfaatkan ke salah satu calon yang didukungnya, sehingga menghasilkan pemilu yang kurang sehat dan tidak akurat. Fenomena ini jangan sampai menjadi tradisi dimasyarakat Madura. Negara sudah merancang sebuah konsep dan bahkan membentuk suatu lembaga-lembaga yang mempunyai tupoksi masing-masing. Namun, hal itu belum tentu bisa efektif dan efisien. Maka perlu kiranya dari suatu lembaga untuk mensosialisasikan konsep demokrasi yang cerdas. Calon pemimpin sudah cerdas, pemilihpun harus memilih analisa cerdas. Kita selaku pemuda juga harus bahu-membahu mensosialisasikan konsep pemilihan pilkada agar ada kesinambungan antara suatu lembaga, pemuda, dan masyarakat secara luas.

Dengan sisa kurun waktu sekitar kurang lebih lima bulan ini, kita mempunyai banyak kesempatan untuk memilih salah satu calon yang sesuai dengan ekspektasi kita. Yang jelas, dalam dinamika politik di Madura, ada beberapa elemen-elem penting yang perlu kita garisbawahi dalam determinasi sikap masyarakat kita. Pertama, memilih dari sisi kedekatan emosional dengan paslon. Kedua, memilih calon disebabkan opsi dari salah satu ulama atau kiyai. Ketiga, memilih karena mengikuti arus lingkungan yang minim akan pengetahuan dasi sosok paslon. Keempat, Memilih karena pengaruh logistik yang lumayan besar. Kelima, memilih karena kepentingan sosial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat secara universal. Keenam, memilih karena konsistensi terhadap rekomendasi partai ke salah satu calon. Terakhir, golput, tidak memilih, atau absen (tidak punya prinsip demokrasi). Dari beberapa elemen itu, tentu kita termasuk dari salah satunya. Ini menjadi bahan evaluasi kita dalam proses pembelajaran berdemokrasi secara profesional agar bisa menghasilkan sosok pemimpin yang ideal. Karena proses demokrasi ini diselenggarakan bersama-sama dan akan dinikmati secara bersama, minimal di dalam satu periode kepemimpinan, serta bukan karena kepentingan pribadi, kelompok, etnis, suku, ras, dan agama. Dengan demikian, lima tahun dalam satu periode merupakan waktu yang sangat cukup untuk membenahi sistem birokrasi di suatu daerah, baik dalam mengatasi kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan internalisasi sosial budaya masyarakat yang sudah sekian lama terpendam karena terkikis oleh era digital yang belum bisa difilter oleh pemerintah. Jangan sampai impian dan cita-cita rakyat untuk menentukan dan memilih pemimpin yang ideal ditukar dengan sifat sesaat disebabkan ada intimedasi atau intervensi dari salah individu atau kelompok yang kurang memperhatikan kondisi rakyat.

Untuk teman dan sejawat, marilah kita sadar dan menyadari. Jikalau ada yang masih belum sadar, ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyadarkan mereka yang tidak tahu pengetahuan tentang politik untuk terwujudnya sebuah peradaban yang baik di Madura. Bukankah kita sama-sama bercita-cita demi terwujud dan terbentuknya provinsi baru di pulau Madura yang penuh dengan variasi wisata dan kekayaan alam yang menggelora, pendidikan yang bernilai terhadap bangsa, dan kaya akan lahan agraria untuk mewujudkan masyarakat Madura yang adil, makmur, dan sejahtera.

Salam Settong Ateh!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan kolom komentar diisi